Senin, 31 Desember 2012

Pahala bagi yang mengajak kepada kebaikan dan keburukan (kesesatan)



          Sebagai umat Islam kita semua adalah bersaudara, umat Islam itu di ibaratkan sebagai satu tubuh yang utuh, apa bila ada bagian yang sakit, yang lain akan merasakannya juga. Dalam beribadah, kita juga sangat di aniurkan untuk saling mengajak kepada kebaikan dan jangan mengajak kepada keburukan. Seperti yang Allah firmankan dalam surat Al ‘Ashr ayat 1-3 yang artnya : “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menetapi kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaan”. Siapa orang-orang yang rugi menurut ayat tersebut? Ya, yaitu orang – orang yang tidak mau saling menasihati dalam hal kebajikan.
          Sekarang, kalau kita merujuk kepada ayat tersebut, sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat Islam untuk saling menasihati kepada sesama (umat Islam) dan mengajak kepada yang lain untuk bisa kembali bersatu, dan tidak tercerai berai (khususnya umat Islam). Terus kenapa kita rugi kalau tidak mengajak orang dalam kebaikan? Jawabnya adalah berikut ini, seperti yang disabdakan Nabi Muhammad SAW, Dari Abu Mas'ud yaitu 'Uqbah bin 'Amral Anshari al-Badri r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang memberikan petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah seperti pahala orang yang melakukan kebaikan itu." (Riwayat Muslim).
          Sebagai contoh, kita mengajak shalat orang lain, misalnya 10 orang, ternyata yang mendapat hidayah dari Allah 2 orang, sehingga mau untuk melaksanakan shalat. Dari situ kita akan mendapatkan pahala dari orang tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang kita ajak. Katakanlah pahala shalat 10, kita akan mendapat tambahan pahala 20 (10x2), dan orang tersebut tetap mendapat 10. Itulah kenapa Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kepada kita untuk saling menasihati selain kita mendapat pahala dari Allah, kita juga akan mendapat tambahan pahala dari orang yang kita ajak tersebut.
          Begitu pula dengan perbuatan dosa, kita akan mendapatkan dosa apabila kita mengajak seseorang dalam melakukan keburukan, seperti yang di sabdakan oleh Nabi SAW berikut ini, …….. barangsiapa yang mengajak kearah keburukan, maka ia memperoleh dosa sebagaimana dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedrkitpun dari dosa-dosa mereka yang mencontohnya itu." (Riwayat Muslim). Oleh sebab itu jaganlah kita sampai mengajak kepada keburukan, karena kita akan menanggung dosanya dan dosa kita sendiri.
          Mulai saat ini marilah kita saling berlomba-lomba dalam kebaikan, dan jangan berlomba-lomba dalam kemaksiatan. Jangan sampai kita di murkai oleh Allah akibat perbuatan yang kita lakukan, sebab bukan hanya kita yang akan menanggung akibatnya, tetapi orang lain juga akan menanggung akibat dari pada perbuatan kita.
          Mungkin cukup sekian dari saya, semoga bias bermanfaat.

Minggu, 30 Desember 2012

Pegangan Hidup


Pegangan Hidup
          Dalam kehidupan kita di dunia ini kita hanya sementara. Hidup yang sementara ini harus kita pergunakan dengan sebaik-baiknya agar tidak menyesal di kemudian hari. Kita sebagai umat Islam, harus percaya dengan adanya hari Akhir / Kiamat, sebab itu termasuk rukun Iman. Dalam hidup di dunia ini kita sering merasakan senang, susah, sehat, sakit dan lain sebagainya. Semua itu adalah ujian dari Allah SWT sebab, Allah ingin menguji tingkat keimanan kita semua. Seperti halnya anak-anak sekolah, untuk naik kelas mereka harus menempuh ujian yang berat untuk bias naik kelas, hanya anak-anak sekolah saja yang menempuh ujian tersebut, kita yang tidak sekolah, tidak akan merasakan berat dan susahnya ujian tersebut, karena memang tidak sekolah. Orang yang beriman seperti anak sekolah tersebut, semakin berat ujian yang diterima, maka tingkat keimanan akan semakin tinggi.
          Allah SWT telah berfirman dalam Al Qur’an yang artinya :
Surat 5. AL MAA-IDAH - Ayat 48
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,
Surat 17. AL ISRAA' - Ayat 60
Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia". Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Qur'an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka.
Surat 37. ASH SHAAFFAAT - Ayat 106
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
Surat 39. AZ ZUMAR - Ayat 49
Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku". Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.
Rasulullah SAW pernah bersabda :
Dan dengan sanad ini (Yaitu; Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid bin Abu Habib dari Sa'id bin Sinan dari Anas berkata:) dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam beliau bersabda: "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akanmenguji mereka, barangsiapa yang ridla maka baginya keridlaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." Abu Isa berkata: Hadits ini hasan gharib dari jalur sanad ini. (Hadis Riwayat Tirmidzi)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba, apabila pernah memiliki kedudukan dari Allah, yang tidak ia peroleh dengan amalannya maka Allah mengujinya pada jasadnya, harta, atau pada anaknya." (Hadis Riwayat Abu Daud)
Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Yahya bin Sa'id berkata, "Pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ada seorang laki-laki didatangi kematian, lalu ada seseorang berkata; "Selamat untuknya, dia meninggal tanpa diuji dengan penyakit." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Celaka kamu! Tidakkah kamu tahu, kalau Allahmengujinya dengan penyakit niscaya dengan penyakit itu akan dilebur keburukan-keburukannya! " (Hadis Riwayat Malik)

          Oleh sebab itu apa bila kita mendapat ujian (untuk orang-orang yang beriman) maka berbaik sangkalah kepada Allah, itu pertanda Allah menyanyangi kita. Seperti yang telah di firmankan oleh Allah dalam Al Qur’an dan sabda Nabi Muhammad SAW yang tersebut di atas tersebut.
          Oleh sebab itu kita harus berpegang teguh kepada tali agama yang telah di berikan oleh Allah. Tali agama Alllah adalah apa yang telah di wariskan oleh Nabi SAW yaitu, Al Qur’an dan As Sunnah. Dengan berpegang pada tali agama (pusaka umat Islam) tersebut maka insya Allah kita akan selamat dan tidak akan tersesat. Seperti yang telah apa yang di sabdakan Nabi SAW berikut ini :
Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah yaitu Ibnu Shalih dari Dlamrah bin Habib dari Abdurrahman bin 'Amr As-Sulami sesungguhnya telah mendengar Al 'Irbadl bin Sariyah berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam memberi nasehat kepada kami dengan nasehat yang menyebabkan mata bercucuran dan hati menjadi tergetar. Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini adalah nasehat perpisahan, apa yang anda janjikan kepada kami?". Beliau bersabda: "Sungguh saya telah meninggalkan kalian dalam keadaan yang sangat jelas, malamnya sebagaimana siangnya. Tidak akan menyeleweng setelahku kecuali dia akan binasa. Barangsiapa yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpeganglahdengan apa yang kalian ketahui dari sunnahku dan sunnah Khulafa' Rasyidin yang mendapat petunjuk. Kalian harus taat, walau terhadap hamba dari Habasyah, gigitlah dengan gigi geraham. Hanyasanya seorang mukmin itu laksana unta yang penurut, kemana dituntun dia akan nurut." (Hadis Riwayat Ahmad)
Telah mengabarkan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Daud dari As Sya'bi, bahwasanya Umar radliallahhu 'anhu berkata; "Wahai manusia, kami tidak mengetahui mungkin saja kami memerintah kalian melakukan beberapa hal yang tidak halal bagi kalian, dan mungkin saja kami mengharamkan beberapa hal atas kalian padahal ia halal bagi kalian, sesungguhnya yang terakhir turun dari Al Qur`an adalah ayat (tentang) riba. Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak menjelaskannya kepada kami hingga beliau wafat maka tinggalkanlah apa saja yang membuat kalian ragu dan berpeganglah pada sesuatau yang kalian tidak ragu (padanya)." (Hadis Riwayat Dharimi)
Allah SWT juga berfirman yang artinya :
Surat 3. ALI 'IMRAN - Ayat 103 :
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Surat 7. AL A'RAAF - Ayat 145
Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): "Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik.
Surat 22. AL HAJJ - Ayat 78
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
          Demikian tulisan yang saya buat, semoga bias menambah pengetahuan bagi kita semua, bias menambah keimanan dan bertambah ketakwaan kita kepada Allah SWT.